Minggu, 14 Oktober 2012

All About Delirium


A.    Pengantar

Delirium berasal dari bahasa Latin de--, berarti “dari” dan lira yang berarti “garis”atau “alur”. Hal ini berarti pergeseran dari garis atau norma, dalam persepsi, kognisi, dan perilaku. Delirium mencakup keadaan kebingungan mental yang ekstrim di mana orang mengalami kesulitan berkonsentrasi dan berbicara secara jelas dan masuk akal. Penderita delirium mungkin mengalami kesulitan untuk mengabaikan stimulus yang tidak sesuai atau mengalihkan perhatian mereka pada tugas yang baru.
            Suatu keadaan temporer dimana pikiran,tingkat kesadaran,bicara dan pola motoriknya sangat membingungkan,tidak stabil,atau sangat mengganggu.Selain yang dapat dilihat,mungkin juga ada disfungsi sistem syaraf autonomik.Penderita delirium mungkin mengalami delusi,ilusi atau halusinasi ,juga gangguan emosi seperti kecemasan.Euforia atau mudah tersinggung.
            Delirium disebabkan oleh perubahan metabolisme otak.Kerusakan otak karena luka,obat-obatan,panas tinggi,atau problem medis yang lain.Gangguan ini bisa terjadi pada segala umur,namun biasanya pada orang tua,karena jatuh,operasi dan lain-lain.
            Penderita dapat menunjukkan bermacam-macam gangguan emosi seperti cemas,takut,depresi,euforia dan apati.Emosi berubah-ubah,dapat berbeda setiap waktu,berkurang pada pagi hari dan memburuk pada malam hari,atau dalam keadaan gelap tidak tidur.











B.     Gejala Delirium

Orang yang terkena delirium mungkin mengalami kesulitan untuk mengabaikan stimulus yang tidak sesuai atau mengalihkan perhatian mereka pada tugas yang baru. Mereka mungkin berbicara penuh semangat, tetapi pembicaraan mereka hanya mengandung, jika ada, sedikit arti. Disorientasi dalam hal waktu (tidak tahu tanggal saat itu, hari di minggu itu atau jam) dan tempat (tidak tahu di mana ia berada) biasa terjadi. Disorientasi terhadap orang (identitas diri sendiri dan orang lain) tidak biasa terjadi. Orang-orang dalam kondisi delirium mungkin mengalami halusinasi yang menakutkan, terutama halusinasi visual.

Gangguan-gangguan dalam persepsi sering terjadi, seperti salah menginterpretasikan stimulus sensoris (contohnya, salah mengartikan bunyi alarm jam dengan bunyi alarm kebakaran) atau ilusi (misalnya, merasa bahwa di tempat tidur seperti ada listrik yang mengalirinya). Mungkin saja terjadi perlambatan gerakan yang dramatis menuju keadaan yang menyerupai katatonia. Mungkin juga terdapat fluktuasi yang cepat antara kegelisahan dan teller. Kegelisahan ini ditandai oleh insomnia, agitasi, gerakan-gerakan yang tidak bertujuan, bahkan melompat tiba-tiba dari tempat tidur atau menyerang objek yang tidak ada. Hal ini mungkin bergantian dengan periode di mana penderita harus berjuang untuk tetap terjaga.



Delirium dapat merupakan akibat dari berbagai macam kondisi medis . Hal-hal tersebut mencakup trauma kepala, gangguan metabolism, seperti hipoglikemia (kadar gula darah rendah); ketidakseimbangan cairan atau elektrolit; gangguan serangan kejang (epilepsi); kekurangan vitamin B thiamine; luka pada otak; dan berbagai macam penyakit yang mempengaruhi system syaraf pusat, termasuk penyakit Parkinson, Alzheimer, ensefalitis virus (suatu jenis infeksi otak), penyakit liver, dan ginjal.

Delirium juga mungkin terjadi akibat pemaparan terhadap zat-zat beracun (seperti memakan jamur tertentu yang beracun), efek samping dari penggunaan obat tertentu atau dalam keadaan intoksikasi obat atau alkohol. Delirium mungkin juga akibat penghentian tiba-tiba penggunaan zat-zat psikoaktif, terutama alkohol, biasanya setelah periode penggunaan yang kronis dan berat. Putus zat secara tiba-tiba dari obat-obatan psikoaktif, terutama alkohol, merupakan penyebab yang paling umum dari delirium (Freemon, 1981). Orang-orang yang mengalami alkoholisme kronis dan secara tiba-tiba berhenti minum dapat mengalami bentuk delirium yang disebut delirium tremens atau DTs. Selama periode akut dari DTs, orang tersebut mungkin diteror oleh halusinasi yang aneh dan menakutkan, seperti “kutu yang menuruni dinding” atau kulit. DTs dapat berlangsung selama satu minggu atau lebih dan paling baik jika dilakukan perawatan dalam lingkup rumah sakit, di mana pasien dapat dimonitor secara seksama dan symptom-simptom ditangani dengan penenang ringan serta dukungan lingkungan. Meskipun terdapat banyak penyebab delirium yang dikenal, pada banyak kasus penyebab spesifiknya tidak dapat diketahui.

Apa pun penyebabnya, delirium mencakup gangguan menyeluruh pada proses metabolism otak dan ketidakseimbangan pada tingkat neurotransmiter. Sebagai hasilnya, kemampuan untuk memproses informasi terganggu dan terjadi kebingungan. Kemampuan untuk berpikir dan berbicara dengan jelas untuk menginterpretasikan stimulus sensoris secara akurat, dan untuk memperhatikan lingkungan menjadi berkurang. Delirium mungkin terjadi tiba-tiba, sebagaimana pada kasus akibat kejang atau luka pada otak atau berangsur-angsur selama beberapa jam atau hari, seperti pada kasus-kasus yang melibatkan infeksi, demam atau gangguan metabolism. Selama terjadinya delirium, keadaan mental seseorang akan sering berfluktuasi antara periode kejelasan (“interval yang jelas”), yang umumnya terjadi di pagi hari dan periode kebingungan, serta disorientasi. Delirium biasanya memburuk pada saat gelap dan malam-malam yang menghantui di mana orang tersebut tidak dapat tidur. 
Gambaran klinis

Kesadaran (Arousal)
Dua pola umum kelainan kesadaran telah ditemukan pada pasien dengan delirium, satu pola ditandai oleh hiperaktivitas yang berhubungan dengan peningkatan kesiagaan. Pola lain ditandai oleh penurunan kesiagaan. Pasien dengan delirium yang berhubungan dengan putus zat seringkali mempunyai delirium hiperaktif, yang juga dapat disertai dengan tanda otonomik, seperti kemerahan kulit, pucat, berkeringat, takikardia, pupil berdilatasi, mual, muntah, dan hipertermia. Pasien dengan gejala hipoaktif kadang-kadang diklasifikasikan sebagai depresi, katatonik atau mengalami demensia.

Orientasi
Orientasi terhadap waktu, tempat dan orang harus diuji pada seorang pasien dengan delirium. Orientasi terhadap waktu seringkali hilang bahkan pada kasus delirium yang ringan. Orientasi terhadap tempat dan kemampuan untuk mengenali orang lain (sebagai contohnya, dokter, anggota keluarga) mungkin juga terganggu pada kasus yang berat Pasien delirium jarang kehilangan orientasi terhadap dirinya sendiri.

Bahasa dan Kognisi
Pasien dengan delirium seringkali mempunyai kelainan dalam bahasa. Kelainan dapat berupa bicara yang melantur, tidak relevan, atau membingungkan (inkoheren) dan gangguan kemampuan untuk mengerti pembicaraan Fungsi kognitif lainnya yang mungkin terganggu pada pasien delirium adalah fungsi ingatan dan kognitif umum Kemampuan untuk menyusun, mempertahankan dan mengingat kenangan mungkin terganggu, walaupun ingatan kenangan yang jauh mungkin dipertahankan. Disarnping penurunan perhatian, pasien mungkin mempunyai penurunan kognitif yang dramatis sebagai suatu gejala hipoaktif delirium yang karakteristik. Pasien delirium juga mempunyai gangguan kemampuan memecahkan masalah dan mungkin mempunyai waham yang tidak sistematik, kadang­ kadang paranoid.

Persepsi
Pasien dengan delirium seringkali mempunyai ketidak mampuan umum untuk membedakan stimuli sensorik dan untuk mengintegrasikan persepsi sekarang dengan pengalaman masa lalu mereka. Halusinasi relatif sering pada pasien delirium. Halusinasi paling sering adalah visual atau auditoris walaupun halusinasi dapat taktil atau olfaktoris. Ilusi visual dan auditoris adalah sering pada delirium.

Suasana Perasaan
Pasien dengan delirium mempunyai kelainan dalam pengaturan suasana Gejala yang paling sering adalah kemarahan, kegusaran, dan rasa takut yang tidak beralasan. Kelainan suasana perasaan lain adalah apati, depresi, dan euforia.

Gejala Penyerta : Gangguan tidur-bangun
Tidur pada pasien delirium secara karakteristik adalah tergangga Paling sedikit mengantuk selama siang hari dan dapat ditemukan tidur sekejap di tempat tidurnya atau di ruang keluarga. Seringkali keseluruhan siklus tidur-bangun pasien dengan delirium semata ­mata terbalik. Pasien seringkali mengalami eksaserbasi gejala delirium tepat sebelum tidur, situasi klinis yang dikenal luas sebagai sundowning.1

Gejala neurologis
Gejala neurologis yang menyertai, termasuk disfagia, tremor, asteriksis, inkoordinasi, dan inkontinensia urin.




























C.    Penyebab Delirium
Penyebab Delirium antara lain adalah :
·        Mengkonsumsi alkohol
·        Obat-obatan dan bahan beracun
·        Efek toksik dari pengobatan Kadar elektrolit
·        Garam dan mineral (misalnya kalsium, natrium atau magnesium) yang tidak normal akibat pengobatan
·        Dehidrasi atau penyakit tertentu
·        Infeksi akut disertai demam
·        Hidrosefalus bertekanan normal, yaitu suatu keadaan dimana cairan yang membantali otak tidak diserap sebagaimana mestinya dan menekan otak
·        Hematoma subdural, yaitu pengumpulan darah di bawah tengkorak yang dapat menekan otak.
·         Meningitis, ensefalitis, sifilis (penyakit infeksi yang menyerang otak)
·        Kekurangan tiamin dan vitamin B12
·        Tumor otak (beberapa diantaranya kadang menyebabkan linglung dan gangguan ingatan)
·        Patah tulang panggul dan tulang-tulang panjang
·         Fungsi jantung atau paru-paru yang buruk dan menyebabkan rendahnya kadar oksigen atau tingginya kadar karbon dioksida di dalam darah
·        Stroke.








D.    Pedoman Diagnostik Menurut PPDGJ

·        Gangguan kesadaran dan perhatian :
-          Dari taraf kesadaran berkabut sampai dengan koma;
-          Menurunnya kemampuan untuk mengarahkan,memusatkan,mempertahankan,dan mengalihkan perhatian.
·        Gangguan kognitif secara umum :
-          Distorsi persepsi,ilusi dan halusinasi-seringkali visual;
-           Hendaya daya pikir dan pengertian abstrak,dengan atau tanpa waham yang bersifat sementara;tetapi sangat khas terdapat inkoherensi yang ringan;
-          Hendaya daya ingat segera dan  jangka pendek,namun daya ingat jangka panjang relatif utuh;
-          Disorientasi waktu,pada kasus yang berat,terdapat juga disorientasi tempat dan orang.
·        Gangguan psikomotor :
-          Hipo- atau hiper-aktivitas dan pengalihan aktivitas yang tidak terduga dari satu ke yang lain;
-          Waktu bereaksi yang lebih panjang;
-          Arus pembicaraan bertambah atau berkurang;
-          Reaksi terperanjat meningkat.
·        Gangguan siklus tidur bangun :
-          Insomnia atau pada kasus yang berat tidak dapat tidur sama sekali atau sebaliknya siklus tidur bangun;mengantuk pada siang hari;
-          Gejala yang memburuk pada malam hari;
-          Mimpi yang mengganggu atau mimpi buruk,yang dapat berlanjut menjadi halusinasi setelah bangun tidur.
·        Gangguan emosional
-          Misalnya depresi,anxietas atau takut,lekas marah,euforia,apatis,atau rasa kehilangan akal.
·        Onset biasanya cepat,perjalanan penyakitnya hilang timbul sepanjang hari,dan keadaan itu berlangsung kurang dari 6 bulan.



E.     Terapi Untuk Delirium
Terapi diawali dengan memperbaiki kondisi penyakitnya dan menghilangkan faktor yang memberatkan seperti:
      Menghentikan penggunaan obat
      Obati infeksi
      Suport pada pasien dan keluanga
       Mengurangi dan menghentikan agitasi untuk   pengamanan pasien
      Cukupi cairan dan nutrisi
      Vitamin yang dibutuhkan
      Segala alat pengekang boleh digunakan tapi harus segera dilepas bila sudah membaik, alat infuse sesederhana mungkin, lingkungan diatur agar nyaman.
      Obat: Haloperidoi dosis rendah dulu 0,5 1 mg per os, IV atau IV
      Risperidone0,5 3mg perostiap 12jam
      Olanzapine 2,5 15 mg per os 1 x sehari
Lorazepam 0,5 1mg per Os atau parenteral (tak tersedia di Indonesia), Perlu diingat obat benzodiazepine mi bisa memperburuk delirium karena efek sedasinya

















F.     Contoh Kasus
Ny.Van Dijk(86 tahun) baru-baru saja diterima di rumah perawatan psikogeriatrik(kesehatan jiwa pada lansia).Ia dirawat karena tidak dapat dipertanggungjawabkan bila di rumah.Gejala yang muncul adalah merasa ketakutan,adanya gangguan memori dan disorientasi.Dia sudah menjanda beberapa tahun tanpa memiliki anak.Ia mendapat kunjungan teratur dari keponakan laki-lakinya.Pada umumnya sikap Ny.Van Dijk mengalami banyak perubahan.Kadang ia ramah selama beberapa hari lalu kemudian ia berubah menjadi tidak tenang dan memberontak.Saat malam tidurnya tidak tenang,ingin bangun dan ingin turun dari tempat tidur.Saat pagi ia bangun,ia merasa kacau dan mengatakan tadi malam ia merasa dikejar-kejar laki-laki dan ia merasa ketakutan.Air matanya berlinang dan tidak ia ingin cepat-cepat pulang.Ia tak dapat semenit pun duduk tenang di kursi,berjalan hilir mudik kesana kemari dan berusaha merangkak untuk lari.

G.    Diagnosis Multiaksial
·        Aksis I : Gangguan mental organik(mental simtomatik)
·        Aksis II : Gangguan emosional tak stabil
·        Aksis III : -
·        Aksis IV : Masalah keluarga
·        Aksis V : 60-51

Tidak ada komentar: